Renungan Untuk kita yang Sudah Lama “Ngaji” Bahasa Arab
(artikel untuk anggota grup FB Badar Online)
Pengantar
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد
Pembaca mulia – إني أحبكم في الله -, ide yang muncul ketika penulis susun risalah ini adalah keinginan untuk menyampaikan suatu nasehat untuk diri penulis sendiri, sebagai catatan harian penulis setelah merasa hati ini tetap kering ketika membaca Al-Qur’an meskipun sudah berusaha mempelajari bahasa Arab untuk memahaminya. Namun, semakin banyak penulis coba melakukan rihlah ilmiah untuk mencari nasehat-nasehat salafusshalih di kitab-kitab mereka, semakin terasa pula bahwa sebab kekeringan itu adalah kotornya hati ini. Setelah berlalunya waktu, penulis coba postkan catatan ini di room bahasa Arab online ini dengan harapan agar para pembaca dapat ikut merenungi pesan para salafusshalih tersebut. Mudah-mudahan ini termasuk bentuk pengamalan sabda Nabi bahwa الدين النصيحة “Agama adalah nasehat”.
Pembaca mulia, alhamdulillah, kami merasa sangat bahagia ketika melihat antusias yang luar biasa dari para anggota grup maupun fanspage Bahasa Arab Online yang demikian semangat untuk mempelajari bahasa Arab. Masya Allah, ini adalah suatu kenikmatan yang patut kita syukuri karena mungkin di waktu yang sama, di kala para pembaca mengikuti kagiatan belajar atau mengulang pelajaran di rumah, di waktu itu pula ada saudara-saudara muslim kita lainnya yang masih lalai, masih terbuai dengan kehidupan hura-hura.
Di sisi lain, mungkin ada pula di antara kita yang sudah cukup lama mempelajari bahasa Arab, tetapi kekeringan dan kotornya hati masih kita rasakan.
Ya, mungkin di antara kita ada yang sudah lama mengenal yang namanya “ngaji”.
Kita sudah lama mengenal bahasa Arab…
Atau….
Kita sudah lama membaca Al-Qur’an…
Kita sudah lama membaca hadits-hadits nabi…
Kita sudah lama mendengar nasehat ulama…
Kita sudah lama mengikuti majelis ta’lim…
Namun…
Mungkin di antara kita masih terasa kering hatinya….
Air mata kita tak mampu meleleh di saat kalamullah diperdengarkan…
Tubuh ini masih terasa capai untuk menegakkan shalat malam…
Lisan ini masih diam ketika melihat kemungkaran….
Tangan ini masih tak bergerak di kala orang-orang yang kita kenal bermaksiat…
Khalid duduk di ruang kerjanya dengan pikiran yang diliputi kesedihan dan kegalauan. Shaleh, kawannya, memperhatikan kegalauan dan kesedihan itu di wajahnya. Ia berdiri dari mejanya dan mendekati Khalid, lalu berkata padanya:
