posting terdahulu saya mengatakan hisab lebih masuk akal daripada Rukyat,
selama ini saya masih terus mencari sumber² terkuat dan pendapat² terkuat mengenai pemikiran yang berbeda itu, suatu ketika saya membaca suatu artikel yang berjudul “mengapa harus Rukyat?”.
pada artikel tersebut dipaparkan pendapat penulis mengenai Rukyat dan hisab, saya sendiri tidak pernah berfikir sampai situ..
saya ingin merevisi beberapa pendapat saya dan posting yang saya tulis bahwa “Rukyat tidak konsisten”
dahulu saya berpendapat kenapa sih kalau menentukan bulan harus memakai Rukyat yang jelas2 pandangan mata terbatas, dan kenapa mereka yang berpendapat Rukyat ketika shalat tidak pernah melihat matahari sudah tergelincir atau belum malah mereka melihat jam dinding, yang jelas² jam dinding itu adalah salat satu alat hisab.
dan kenapa saya merevisi pendapat saya, dalam artikel “mengapa harus Rukyat?” itu beliau mengungkapkan mengapa harus pakai pengamatan secara langsung, mengapa tidak mengunakan perhitungan yang jelas canggih menggunakan satelit?
beliau berkata simpel “di dalam hadist : Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.(HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081), jelas dikatakan jika kmu melihatnya,lihat jelas mengunakan mata,andaikata ketika kamu berada didalam gedung dan ditanya kmu tahu matahari dimana?kita jawab tahu,matahari ada diatas kita, tapi jika kita ditanya, apakah kmu melihat matahari,kita jawab tidak..”
jawaban itu simpel tapi itu yang paling masuk akal..
so..saya minta maaf jika saya kemarin salah dalam berpendapat, itu termasuk dalam proses pencarian kebenaran, kita tidak akan menemukan kebenaran jika kita belum menemukan kesalahan..
Wallahu a’lam bishshawab

Akan tetapi … hadits tersebut menurut sebagian ahli hisab perlu dicermati dalam konteks waktu ketika ucapan Rasulullah tersebut keluar. Sebab, cara itu memang paling sederhana untuk menentukan awal dan akhir bulan saat itu.
Jadi, mau beralih ke rukyat nih? :D
Reply
hehe.. memang betul mas hadist bisa kita nilai dari konteks waktu..
ada bagian dari hadist itu yang menurut saya paling kuat, yang saya mencari kelemahannya sampai sekrang belum menemukan, yaitu “Bila hilal tetutup atasmu” atau “Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” nah Rasulullah mengatakan jika tidak melihat hilal maka jadikan 30hari..
sampai sekrang saya belum bisa menemukan kelemahan pada hadist ini, kalau mas dony reza ada sebuah pemikiran, silahkan mas.. saya sangat mengharapkannya
mungkin sementara ini saya mengatakan hisab sebagai alat bantu saja, bukan penentu utama
Reply
pertamaxxxxx horeee…..

saya maaf kan mas atas infonya
maap lahir bathin yah…
semoga segala amal ibadah di ramadhan kali ini diterima disisiNYA amin…amin…
Reply
kwkwkwk… gak jadi pertamax.. mas dony nyangkut di akismet,makanya gak keliatan..
saya maafkan juga
semoga diRamadhan ini bisa membawa perubahan pada kita semua, dari yang kurus bisa tambah ngemuk, dari yang merokok menjadi tidak merokok, dari yang suka tidur malam, jadi tidur teratur
Reply
hehehe… Ramadhan kan suatu batu loncatan.. kalau setelah Ramadhan gak ada yang berubah atau meningkat.. bisa di nilai gagal…
karena itu rokoknya ri tanem di tanah aja… didepan kamar gitu.. cukup engkau kenang saja rokok 9senti itu..
yg terpenting perbedaan yang ada tidak menjadikan umat terpecah belah..
met berpuasa y..
Reply
bener itu mas..
perbedaan jangan sampai membawa perpecahan,
tapi jangan juga kita takut dengan perbedaan..
saya takut nanti di “sidang akhir” saya ditanya : sudahkah dirimu mencari ilmu agama semampumu? saya ingin menjawab nya “semampu saya ya Allah..”
jadi mohon maaf jika ada kesalahan, dan mohon koreksinya
Reply
setuju ama pendapat mas donnyreza… hehe… menurut gw sih, hadist itu kan dalam konteks ilmu pengetahuan saat itu yang belum semaju sekarang. Gw mah tetep hisab!
Btw, sebenernya, mo rukyat atau hisab, yang penting kita yakin ijtihad mana yang mo diikutin. Beres kan? Gak perlu saling nyalahin…. Ntar diketawain bule-bule lagi… mereka bilang “Kita udah maen ke bulan dari kapan taun, eh orang Islam masih gontok2an karena ngintipin bulan”
Reply
yup.. memang masuk akal, dulu belum ada sistem GPS satelit yang mengetahui letak bulan..
nah istihaj memang bisa kita jadikan dasar, tapi ya itu.. kita pun harus tau dan harus berusaha mencari kebenaran, walau kita sudah merasa benar..
kalau masalah diketawain bule mah, saya yang ngetawain mereka,,hehe mereka pinter tapi gak percaya ama tuhan..hehe
boleh gak jika saya berhaji melalui webcam?? saya kirim robot kesana dan saya hanya menyaksikan di layar monitor saya?? moga2 jawabannya gak boleh
teknologi tetap teknologi.. tapi perintah juga tetap perintah..
kita diperintahkan shalat, tapi kita buat robot yang menggantikan kita?jelas tidak boleh, karena yang diperintah itu adalah kita..
nah.. apa dengan menyaksikan bulan dengan mata kita jadi manusia ketinggalan jaman?pasti gak donk..hehe
oh ya.. mereka juga blm ke bulan kog.. jadi tenang aja kalo dikatain gt ama mereka,hehe
Reply
iya….
Reply
Ha…ha..ha… kalau saya terbalik dulu waktu kecil belum tahu apa-apa ikut rukyat, sekarang walau cuman sedikit kali tahunya tentang hadits, yakin hisab itu metode yang benar dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan di zaman sekarang sesuai kondisi sekarang yang sudah banyak ahli ilmu falak dan perkembangan teknologi yang begitu maju.
Tetap Hisab, rukyat hanya sebagai pendukung!
Alasannya juga sederhana, dalam konteks hadits tentang rukyat, kan ada hadits yang mengatakan kita ini bangsa yang ummi (belum bisa menghitung dan membaca), jadi hadits tentang rukyat sifatnya kondisional bukan universal, ini kata hadits itu sendiri, bukan kata saya dan kenyataan waktu itu perkembangan ilmu pengetahuan belum seperti sekarang, yang bahkan sudah bisa menentukan gerhana bulan dengan tepat.
Sebagai gambaran pemahaman … Nabi Muhammad SAW shalat Idul Fitri selalu di lapangan kecuali hujan (walaupun Masjid sudah ada), Nah hujannya itulah yang dijadikan illat untuk shalat di Masjid, jadi walaupun peradaban sudah maju Masjid sudah banyak dan besar2x, tetap saja kita harus shalat di lapangan kecuali hujan atau kecuali ada hadits lain yang menunjukkan shalat di lapangan sifatnya kondisional (selain hujan).
Reply
Nimbrung Nih….
Semalam saya lihat di Metro TV today dialog… antara NU dan Muhamadiah..
Disana kelihatan sekali yang menggunakan Hisab tidak bisa menjawab…
Waktu pihak hisab mengatakan rukyat dengan ilmu pengetahuan.. terus ditanggapi oleh pihak rukyat… dengan mengatakan kalau perintah dengan ilmu maka bunyi hadis-nya tidak begitu ..(diterangkn bla-..bla..) malah pihak rukyat menambahkan.. kalau cuma dengan hisab.. di NU gudangnya ahli hisab.. bahkan bisa memperediksi 1000 tahun bahkan lebih kedepan kapan tanggal 1 syawal.
Ditambahkan kalau hanya dengan perhitungan, maka ilmu falak tidak berkembang tapi dengan melihat langsung teknologi akan terung berkembang bahkan di NU sudah punya alat yang canggih untuk melihat bulan.
Waktu pihak hisab memenggal hadis tentang rukyat.. langsung di potong oleh pihak rukyat.. dalam kaedah tatabahasa .. tidak bisa seenak-nya memenggal kalimat.. maka kalau hanya diambil tersebut.. jelas salah karena ada yang ketinggalan kata … bla…bla…
dll.
Reply
mgkn yang hisab bukan ahlinya.. jadi tidak bisa menjawab.. banyak kog ahli hisab yang pinter2 menurut saya, bisa menyeimbangi pendapat pro-rukyat..
klo yang rukyat pke teleskop buat apa? jaman nabi kan gak ada tleskop.. berarti NU juga pakai ilmu pengetahuan buat memastikan rukyat? sama donk ama prinsip dasat hisab.. trus kenapa NU gak setuju dengan hisab?
Tak ada dalam Quran dan hadis yang menyatkan awal bula dalam penanggalan hijriya adalah karena saat terjadi konjungsi. yang ada dalam hadis adalah awal bulan saat tampak atau digenapkan jika tidak tampak. dan kalau terhalang maka nabi mengatakan takarlah (hitunglah), sangat tidak masuk akal kalau ada yang mengatakan bahwa saat nabi Muhammad tidak ada yang tahu menghitung kalender, penanggalan berdasarkan bulan sudah ada sejak sebelum nabi lahir. Ada pertemuan para astronmi islam di Turky tahun 1974 dan banyak pendapat hli astronomi non muslim, menyatakan bahwa hilal akan tampak jika >2 derajat, dibawah dari itu tidak mungkin tampak. Kenapa kita tidak menggunakan standar itu sebagai awal bulan. Bukan kah ini hanya kesepahaman standar seperti juga awal bulan kalender masehi karena kesapahaman.
Reply
ini semua hanya berbeda tafsiran saja.. semua orang berusaha mencari kebenaran untuk kemaslahatan bersama
Reply