-->

dunia memang terkadang terbalik, saya jadi bingung..
jari yang bergerak gerak ketika tasyahud/tahyat akhir/awal di bilang sesat/bid’ah, tetapi niat yang dilafadz kan “Usholli fardhul …” malah tidak dibilang bid’ah, shalat berjamaah dua orang yang lurus berdampingan ma’mum disamping pas dengan imam malah disalahkan, tidak mau salaman sehabis shalat dibilang sombong, tidak ikut yasinan di bilang aliran sesat, tidak mengadakan/ikut tahlilan 1-3-7-40-100hari dibilang tidak menghormati si mayit, mengatakan “doa berjamaah tidak pernah dicontohkan oleh Rasul” di bilang sesat/extremisme, mengatakan Rasul tidak pernah mencontohkan sujud syukur di setiap sehabis Tasyahud akhir dibilang extremisme, mengatakan “dzikir dengan mengeraskan suara sehabis shalat tidak pernah di contohkan” dibilang sok tahu, dan kawan kawan deh.. buanyaak bgt..

nah.. mungkin ada yang bingung, “kenapa sih kog susah mikirin itu?”, jawaban singkat, saya berusaha membela islam yang sedang ditambah tambahkan oleh manusia yang mengaku umat Rasulullah.. yang jelas jelas Rasul mengatakan

Dari ‘Irbadh bin Saariyah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan kepada kami suatu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat air mata kami berlinang, lalu kamipun berkata: “Ya Rasulullah sepertinya ini merupakan nasehat perpisahan maka nasehatilah kami wahai Rasulullah! Beliaupun lalu bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (agar) mendengarkan dan mentaati, sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya. Karena sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang dipanjangkan umurnya, maka ia akan melihat banyak terjadi perselisihan (dalam agama), maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpegang teguhlah padanya, gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzy no. 2676, Ibnu Majah no. 44, Ad-Darimy (1/44-45)

itu Rasulullah yang bilang.. bukan sahabat, bukan juga ustad favorit anda, bukan juga tetangga anda, dan sangat jelas ini bukan dari saya..

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang dibuat-buat dalam ajaran kami (agama) padahal amalan itu bukan berasal dari agama ini, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari – Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Ukaim bahwasanya Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama). Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.” (Ibnu Wudhah dalam Al-Bida’, hal 31 dan Al-Laalikaa’iy hadits no.100 (1/84)

agama itu bukan dari ustad anda, bukan juga dari saya.. Islam itu milik Allah, dan Rasulullah menjadi suri tauladan yang sempurna.. dan saya, anda, atau mereka tidak memiliki hak sekecil apapun untuk mengatakan ini lebih baik, itu lebih lengkap kalau di tambahkan niat, Islam ini turun dari Allah yang memiliki kesempurnaan dari segala apapun yang ada di langit dan di bumi, saya, anda, atau mereka hanya sebagian kecil dari semua penciptaan, janganlah menjadi manusia yang sombong, sungguh jika kita menambah²kan ibadah kita telah membuat agama sendiri..

berbeda dengan muamalah, bid’ah adalah bid’ah, tidak ada bid’ah hasanah, siapa yang berani mengatakan bid’ah hasanah harus memiliki dasar/riwayat yang mengatakan Rasul pernah menjelaskan bahwa ada yang namanya kesesatan untuk kebaikan, kenapa saya katakan kesesatan, berdasarkan hadist tadi, jelas Rasul telah mengatakan bid’ah itu sesat, tidak ada kata “kecuali yang hasanah”, TIDAK ADA..

so agama itu jangan di buat rumit, dan jangan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak berguna, amalnya akan tertolak, buat kita baca niat sampe bibir berbusa tapi tidak di hitung sedikitpun??? rugi kan?? banyak manusia yang merugi tapi dia tidak berusaha keluar dari kerugian.. ini sudah tertulis di Al-Quran

Demi masa.
QS. al-Ashr (103) : 1

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
QS. al-Ashr (103) : 2

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.
QS. al-Ashr (103) : 3



  1. Yeni on Wednesday 18, 2009

    Pertamaxxxxxx…*akhirnya*
    wew….dah lama ga ngomen2 disini,bikin saya grogi mas :senyamsenyum:

    Reply

    saya yang nulisnya grogi..hehe dah lama gak nulis.. ini lagi sela2 kerja keras sempet2kan nulis.. :bancikaleng:

    Reply

  2. Yeni on Wednesday 18, 2009

    iyah tu mas, sekarang kok banyak org meributkan ini itu dalam menjalankan ibadah
    kayak yg mereka udah pasti bener aja :sweat:

    Reply

    sebenarnya itu penting seperti halnya,
    mbak yeni ikut perlombaan, pasti ada syarat kemenangan
    juara 1 : harus melewati garis finish lebih awal dari yang lain, harus bebas dari narkoba, harus memiliki berat badan yang sesuai..dan lain2..
    nah sama dengan surga, ketika kita mau mencapai surga semua itu ada syaratnya, nah masalahnya syarat itu banyak yang di tambah2kan, yang padahal tidak ada menjadi ada, padahal mereka itu bukan ‘panitia perlombaan’.. bagaimana pendapat mbak yeni?
    sama halnya seperti jilbab, semisalnya kalau mau langsung masuk surga harus pakai jilbab dulu, kalau tidak harus mampir ke neraka andai kata sehari, nah andai kata ada syarat seperti itu, point tersebut tidak bisa di kurangi atau di tambahkan, seperti pakai jilbab warna kuning, atau jilbab dengan memakai kacamata, padahal syaratnya hanya jilbab, kog malah di tambah2in..

    Reply

  3. fitraraditya on Wednesday 18, 2009

    iya mas,,si yeni sekarang dah jilbaban tuh..
    dah selangkah lebih maju :D
    maklum aja klo grogi,,hhehee…
    *piss buukk* :senyamsenyum:

    Reply

    iyah.. udah mulai dewasa, tanda2 orang yang dewasa kan ingin berubah lebih baik.. banyak sih yang pengen lebih baik, tp tidak mau melangkah.. itu tandanya belum dewasa.. :senyamsenyum:

    Reply

  4. risaldo on Wednesday 18, 2009

    :sep: dimas sempet nulis lagi. wah potonya ganti lagi. potonya yang mandi lumpur dong. kekekekek
    :seneng: *kabur ah..

    Reply

    ini benernya tulisan sebelum lamaran kerja, tp baru sempet di posting sekarang..hehe
    mandi lumpur? ogah, mending mandi air donk..
    gmn dietnya? :think:

    Reply

  5. risaldo on Wednesday 18, 2009

    sip masih jalan dong.

    Reply

    waa… bagus2.. sory yah gak bisa chat lama2 kemarin.. soalnya klo ada waktu tidur harus di pergunakan sebaiknya, kemarin sore aja gak bisa santai, alat kejepit di kedalaman 1600meter.. ikut ngamatin problem.. mlmnya mata gak kuat..

    Reply

  6. mr. not so magnificent on Wednesday 18, 2009

    hmm.. sepertinya saya harus belajar banyak… makasi om pencerahannya

    Reply

    tp saya bukan ulama yang menguasai sanad2 hadist yang bisa kita belajar kepada ulama2 yang bener mengikuti Rasul dan mengikuti pemahaman para Sahabat..
    karena sudah menjasi S1 atau mau menjadi S1 seharusnya pemikiran kita harus kritis, berfikir tentang buat apa kita hidup, kapan kita mati, apa yang terjadi ketika mati..

    Reply

  7. Yeni on Wednesday 18, 2009

    @fitraraditya:
    woooo…kok nggosip disini dikau
    awas yo!!!! aku bantai nyampe rumah mu :marahbgt:

    @mas dimas:
    ooooo…itu tanda2 aku dah dewasa to mas??? baru nyadar malah aku :senyamsenyum:

    Reply

    hehehe iya tuh ad ayang tukang gosip..hehe

    itu emang tanda dewasa.. tapi bukan berarti cukup disitu, harus terus berkembang..
    ada masukan dikit nih.. klo kita dah berjilbab foto yang tidak berjilbab klo bisa di pensiunkan dulu.. :senyamsenyum:
    kita kan berjilbab? buat apa kita pke baju kalau orang bisa liat foto badan(tanpa busana) kita di foto?
    karena foto itu gambaran kita..
    terus semangat berjilbab!! islam indah kalau kita menjalaninya :hore:

    Reply

  8. emfajar on Wednesday 18, 2009

    yang salah kalo orangnya ga beribadah trus nyalah2in orang tentang cara beribadah :gaya:

    Reply

    hehehe.. betul mas.. karena itu kita jalanin.. karena orang yang tidak menjalankan segala sesuatu dalam agama mereka secara tidak langsung sebenarnya menyalahi logika mereka sendiri..
    mereka yakin akan penciptaan, yakin akan Tuhan, tapi kenapa tidak yakin akan adanya neraka???

    Reply

  9. Bamzz on Wednesday 18, 2009

    pertama… :semangat: :semangat:
    Kerja dimana sekarang MAZ…sukses buat u yah..

    amannya kita mengikuti yang disunahkan oleh rosulullah…
    bid’ah atau tidak yang pentong niatnya…semata-mata mendapat ridho alloh..
    yang penting ibadah utama kita…
    sholat 5 waktu…

    Reply

    alhamdulillah keterima kerja di bidang perminyakan nih.. jadi engineer MWD, megang alat sensor buat pemetaan di bawah tanah, kerjanya berat bgt, bener2 harus tahan banting nih.. ini aja udah ke banting berapa kali..hehe

    coba mas tanyain ke NU dasar mereka apa, pasti mereka jawab Al-Quran dan Sunnah, sekarang mas tanya lagi ke Muhammadiyah pasti mereka juga jawab Al-Quran dan Sunnah, Ahmadiyah juga gitu, LDII juga bilang Al-Quran sunnah.. trus apa bedanya mereka??? yaitu perbedaan cara penafsiran.. mereka memakai penafsiran akal mereka sendiri.. seharusnya kita mengikuti penafsiran atau pemahaman islam dari pemeluk islam pertama kali, siapa itu? yaitu para sahabat, karena mereka yang langsung bertemu kepada Rasul, dan mereka adalah sebaik2nya generasi, tapi kenyataannya kita malah memakai penafsiran dari ustad instan yang ada di sekeliling kita, mereka seenaknya saja mengeluarkan fatwa.. padahal ilmu belum ada.. itulah yang merusak islam..
    kalau tergantung niat,, berarti kalau saya shalat 5 waktu tapi sambil nari2 boleh donk? ini islam, punya undang2 sendiri, yang buat adalah yangmenciptakan atom terkecil yang bertawaf anti-clockwise didalam tubuh kita, yang menciptakan tata surya, yang menciptakan ekosistem yang komplek,, karena itu kita gak boleh bilang tergantung niatnya.. salah.. ini agama turun bukan dari akal, kita harus mendahulukan wahyu baru akal, bukan akal dulu baru kita tafsirkan wahyu..

    Reply

  10. Bamzz on Wednesday 18, 2009

    hehehe..selamat ya maz dimaz..
    kayaknya sekarang banyak duid yah.. :ngakaksombong: :ngakaksombong:

    di perminyakan lage..
    maksudku tuh semua harus berdasarkan al quran dan yang disunahkan rasul aja…
    ada ada aja…
    masa sholat sama nari-nari..aku juga tau dosa x maz..haha :vodoo: :vodoo:

    Reply

    karena itu bid’ah itu bukan tergantung niatnya.. bid’ah ya bid’ah..
    jika ibadah tanyakan dalilnya jika urusan dunia tanyakan larangannya.. begitu prinsipnya.. jadi klo ada orang “ushali” dia tidak mengikuti sunnah rasul dan sahabat.. klo itu bagus tentu sahabat pasti sudah melakukannya, mereka adalah pemeluk islam generasi pertama yang berasal dari sumber yang asli dan otentik.. jadi kalau di kasi tau oleh para ustad, tanyakan dalilnya.. jangan manggut2.. :senyamsenyum:
    banyak duit? buat makan ajah abis.. :nangis:

    Reply

  11. tukangobatbersahaja on Wednesday 18, 2009

    Saya kelihatan masih cetek ilmunya :nangis: :nangis:

    Reply

    hehe.. bukan cetek kog mbak.. tp belum belajar.. karena itu ilmu harus di kejar.. andaikan kita hanya menjadi penonton pertandingan basket, tentu kita akan menjadi penonton yang tidak mengetahui mendalam tentang basket.. tapi ketika kita belajar dan menonton tentu kita akan mengerti banyak kenapa peluit dari wasit terus menerus berbunyi.. tau sebab dan akibat..
    belajar kepada ulama yang benar2 ulama.. jangan kepada ulama gadungan yang mengajarkan bid’ah ini itu yang tidak ada contoh dari Rasul
    “jika itu ibadah tanyakan dalilnya, jika itu urusan dunia tanyakan larangannya”
    semoga membantu :hore:

    Reply

  12. azis on Wednesday 18, 2009

    maaf ikut silaturahmi………..mungkin ilmu saya tentang agama masih minim,saya ingin menanyakan tentang puasa diluar sunat……misalnya puasa hari lahir hukumnya apa?

    Reply

    silahkan..
    sepengetahuan saya tidak ada..
    tanyakan kepada yang memberi tahukan kepada anda, tanyakan dalilnya, kalau tidak ada contoh Rasul berarti bid’ah, dan bid’ah itu kesesatan, kesesatan itu tempatnya dineraka.. itulah perkataan Rasul, pada setiap ceramah shalat jumat..

    Reply

  13. azis on Wednesday 18, 2009
  14. Iwan on Wednesday 18, 2009

    :hi:
    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Salam kenal

    Artinya semua ibadah kepada-Nya yang akan dilakukan tidak perlu diucapkan dalam susunan kata-kata sebelum melakukanya? Seperti niat akan sholat, wudhu, dll yang telah di ajarkan semenjak kita di bangku SD, bahkan Taman Pendidikan Al Qur’an? :think:

    Benar juga cy kalau saya pikir, nemu kasus seperti ini ketika teman saya sholat sendiri pada jam Istirahat kantor ketika rombongan kami (saya juga ada) setelah selesai wudhu akan melaksanakan sholat, teman saya yang satunya lagi ngajak sholat berjemaah dengan menggamit/menyentuh pundak teman yang telah duluan sholat dan pada waktu itu sedang mengerjakan rakaat ke-2, akhirnya kami pun sholat berjemaah setelah menyusun shaft di belakangnya

    Saya bertanya pada teman itu, apa bisa seperti itu? Bukankah dia sudah niat sholat bukan sebagai imam ataupun sebagai makmum? Dia jawab, bisa karena sebenarnya niat itu tidak perlu diucapkan karena dari kantor dia kesini itu sudah niat dengan terlaksananya sholat kalau sholat dia tidak terlaksana berarti dia memang tidak ada niat.

    Kalau seandainya ketika itu memang dia berniat dengan kata2 “usholi…”, berarti sholatnya tidak sah dunk? Karna niatnya bukan sebagai imam atau makmum? Benar pembahasan yasng telah di bahas di atas.

    Ada lagi yang bilang niat tetap dilakukan,kalaupun nemu kasus seperti itu,itu sudah diluar kekuasaan kita, hanya Allah yang tahu…..?

    Reply

    kita kembali ke prinsip awal ilmu,
    “kalau itu masalah agama tanyakan dalilnya, kalau itu urusan dunia tanyakan larangannya”
    boleh tidak klo saya shalat sambil loncat2?? kan itu sehat, melatih otot, supaya tidak pegal, dari pada saya shalat diam saja? boleh tidak??
    kalau tidak boleh, mengapa? apa alasan anda melarang saya?
    semoga jawaban anda tidak boleh, atau “Rasulullah tidak pernah shalat sambil loncat2″
    sama halnya ketika masalah niat, yang jelas tidak ada ulama yang bisa menunjukan hadist mengenai Rasulullah mengucapkan niat dengan lafadz “ushali…”, masalah diatas yang saya gambar kasusnya sama, sama2 tidak ada contoh dari Rasul atau dari Sahabat.. klo anda membolehkan orang membaca “ushali..” berarti anda sama juga memperbolehkan orang shalat dengan lompat2.. sekiranya begitu dari saya..
    mohon di tanggapi :senyamsenyum:

    Reply

  15. Iwan on Wednesday 18, 2009

    Ada pertanyaan lain lagi berkaitan dengan sholat. Bagaimana Haditsnya.
    Kalau kita sholat sebagai makmum ketika mengerjakan sholat Jum’at, Maghrib, Isya, Subuh dll (sholat yang bacaan surahnya di keraskan -Al Fatiah, surat pendek lain dalam Al Qur’an) apa kita tidak perlu membacanya kembali karena kita hanya cukup mendengar dan menyimak. Karena ada yang bilang beda-beda pendapat.

    Seperti ada yang bilang tidak perlu mengucapkan kembali apa yang di ucapkan oleh Imam ketika Sholat tertentu (misal: Maghrib, dll) baik itu surat Al-Fatiah dan surat pendeknya, maupun aba-aba gerakan Sholat seperti ucapan Takbiratul Ikhram, dll
    Ada yang bilang setelah imam membaca Alfatiah, kita membacanya setelah itu tanpa surat pendek.
    Ada lagiu yang bilang kita membaca seperti biasanya (semuanya seperti ketika sholat sendiri).

    Trim’s atas jawabannya.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    Reply

    untuk permasalahan ini dalam 4 mahzab masih berbeda pendapat, bukan berarti 1 benar dan 3 salah, mereka adalah imam yang telah banyak berkarya dalam menelusuri hadist, mereka berbeda pendapat karena berbeda pemikiran, silahkan anda mencari lebih lanjut, yang nantinya anda dapet mengetahui mana yang lebih kuat pendapatnya.. saya hanya berusaha memaparkan saja

    a. Mazhab Asy-Syafi’i

    Mazhab As-syafi`iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah sendiri meski dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaan imamnya). Tidak cukup hanya mendengarkan bacaan imam saja.

    Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat Al-Fatihah gugur dalam kasus seorang makmum yang tertinggal dan mendapati imam sedang ruku`. Maka saat itu yang bersangkutan ikut ruku` bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat. Rujuk kitab Al-Majmu, karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullah jilid 3 halaman 344 s/d 350.

    b. Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah

    Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang makmum dalam shalat jamaah yang jahriyah (yang bacaan imamnya keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan imam. Sebab bacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum.

    c. Mazhab Al-Hanafiyah

    Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa Al-Fatihah itu bukan rukun shalat, cukup membaca ayat Al-Quran saja pun sudah boleh. Sebab yang dimaksud dengan `rukun` menurut pandangan mazhab ini adalah semua hal yang wajib dikerjakan baik oleh imam maupun makmum, juga wajib dikerjakan dalam shalat wajib maupun shalat sunnah.

    Sehingga dalam tolok ukur mereka, membaca surat Al-Fatihah tidak termasuk rukun shalat, sebab seorang makmum yang tertinggal tidak membaca Al-Fatihah tapi syah shalatnya. Bahkan makmum shalat dimakruhkan untuk membaca Al-Fatihah karena makmum harus mendengarkan saja apa yang diucapkan imam.

    Reply

  16. Iwan on Wednesday 18, 2009

    Lho…. :marahmendem:

    Koq komentar saya cuma satu yang masuk “………….berkaitan dengan sholat……..”, padahal sebelum pertanyaan “………….berkaitan dengan sholat……..” masih ada yaitu tentang penegasan saya tentang niat dalam sholat ga muncul yah??? Ya sudah gapapa.
    Trim’s

    Reply

    maaf mas iwan, anda kepanjangan nulis di komen jadi masuk kedalam spam akismet, tapi sudah saya approve untuk di tampilkan.. Insya’allah saya jawab sebisanya

    Reply

  17. sandhi on Wednesday 18, 2009

    Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH. Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
    TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :
    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

    REFERENSI :

     Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
     Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media.

    Reply

    hadist yang anda bawakan tidaklah ada keterangan shahih dan periwayatannya..
    dan agamanya islam ini yang membuat bukan NU, jadi harus ada keterangan dari Rasulullah SAW melalui hadist yang shahih, yaitu hadist yang tidak memiliki kecacatan dalam periwayatannya..
    kenapa harus ada keterangan periwayatannya? karena kalau tidak.. anak TK juga bisa buat hadist dengan sesuka hatinya.. tinggal dia bilang ini ada hadist.. dan semua otang harus percaya.. sesat donk semua orang nanti.. jadi pesan saya kalau anda mau mencantumkan hadist, anda harus tahu periwayatnya, dan derajat hadistnya, kalau punya buku di cek lagi benar apa tidak..
    kalau anda mencantumkan hadist tanpa riwayat, anda harus siap2 menanggung dosa kesesatan yang membaca hadist tersebut, karena anda yang menyebabkannya..

    Reply

  18. sandhi on Wednesday 18, 2009

    Mas Dimas, saya hanya ingin menunjukkan kepada mereka kaum Nahdliyyin, yang biasa melakukan tahlilan kenduri kematian bahwa : Ulama-ulama mereka terdahullu justru tidak ada yang mengatakan acara itu sebagai bid’ah hasanah tetapi BID’AH MADZMUMAH (Bid’ah Tercela).

    Tentang hadits itu..itu seluruhnya adalah bagian dari keputusan muktamar itu.

    Kalau masalah hadits memang harus merujuk kepada ahlul hadits. Tetapi itulah mereka…

    Ini semua agar mereka tahu, tak ada satupun ulama bahkan kyai NU terdahulu yang menghukuminya sebagai bid’ah hasanah. Sekian.

    Reply

    terima kasih atas tambahan dari mas sandhi.. :senyamsenyum:
    perlu ada yang saya informasikan.. bid’ah itu tetap bid’ah.. tidak ada bid’ah hasanah.. tidak pernah Rasulullah mengatakan ada bid’ah hasanah, kalau ada yang bilang ada bid’ah hasanah tunjukan dalilnya, shahih atau tidak.. karena ada kesalahan dari si ustad kadang mengatakan hadist dhoif di bilang hadist shahih..
    bid’ah itu dibagi dua karena bentuknya, bid’ah dunia dan bid’ah ibadah, kalau dunia jelas komputer itu bid’ah, tapi apakah komputer itu dilarang? tentu tidak karena tidak ada larangan, ada perkataan dari ustad Yazid jawas “jika itu berhubungan dengan dunia tanyakan larangannya, jika itu berhubungan dengan ibadah tanyakan dalilnya” kerena ibadah itu yang menentukan diterimanya atau tidak bukan kita, jadi kita harus mengikuti PenilaiNya

    Reply

  19. muhammad bin m.ishak on Wednesday 18, 2009

    masyaAlloh….ini malah lebih bagus lagi..!!
    anda benar!!tapi bagaimana anda menerapkan kepada saudara2 kita yg masih melakukan hal2 itu semua??sedangkan anda ketika “off”dr pekerjaan anda,anda hanya berada dalam rumah saja??imam AS-SYAFI’I “mengatakan seandainya ada diujung dunia orang yg masih kafir kepada ALLOH SWT,apabila dari segolongan kalian tidak ada yg meluruskan dia atau kalian mengirim kan orang utk berdakwah kepadanya,maka kalian akan menanggung semua dosa2 nya”.

    Reply

    wow.. anda kog tahu kalau saya ini ada off nya?hehe anda termasuk pengunjung yang jeli :gaya:
    dan pertanyaannya adalah, apakah anda tahu perkerjaan saya bagaimana, disana saya bertemu banyak orang, kan saya bisa dakwah disana, toh di rumah saya juga memiliki tetangga, teman, saudara.. dan ada yang lebih penting dari itu, yaitu mendakwahi diri sendiri, saya takut ketika saya kesana kemarin ternyata diri saya masih tidak mengerti agama tapi sudah teriak kesana kemarin :senyamsenyum:

    Reply

  20. muhammad bin m.ishak on Wednesday 18, 2009

    :vodoo: :hore: :vodoo: :ingat2: :vodoo: :vodoo: :vodoo: :vodoo: :vodoo: :semangat: :semangat: :mojok: :trowout:

    Reply

    :confuse: :confuse: :confuse: :confuse: :confuse:

    Reply

  21. muhammad bin m.ishak on Wednesday 18, 2009

    “wow.. anda kog tahu kalau saya ini ada off nya?hehe anda termasuk pengunjung yang jeli :gaya:” :seneng: ,semua jg tau mas kalau kerja di kilang minyak selalu ada “off”nya.
    BTW sekarang diSumatera mana mas??. :semangat:
    M :lho…bukannya pak mario itu bapaknya mas dhimas?? :sweat:
    D :bukan mas.. itu mah bapaknya tetangga saya :ngantuk:
    M :tp belakangnya sama kan?? :keren:

    Reply

  22. Abu Said on Wednesday 18, 2009

    Mungkin lebih bermanfaat untuk menambah pengetahuan antum tentang Dienul Islam ini dengan membuka website http://www.salafy.or.id beserta link yg ada didalamya

    Mengapa Harus Bermanhaj Salaf?
    02 March 2009 M | 06 Rabbi al-Awwal 1430 H 1,506 views 1 Tanggapan Print   EMAIL
    Penulis : Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari
    Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
    Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj () dan salaf (). Manhaj () dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (), yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).
    Sedangkan salaf (), menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).
    Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf () adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafi atau As Salafi, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).
    Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).
    Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
    Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita:
    “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)
    Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:
    1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
    “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)
    Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).
    Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya.
    Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.
    2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
    “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)
    Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).
    Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.
    Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.
    3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
    “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).
    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.
    Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).
    Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:
    1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).
    Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya.
    Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).
    2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
    “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).
    Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).
    Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37).
    Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).
    Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.
    3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).
    Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) bagi apa yang diperselisihkan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara:
    - Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam.
    - Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan.
    - Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79).
    Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.
    Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:
    1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.
    2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.
    3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.
    4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
    5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
    Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:
    1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).
    2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil melalui kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).
    3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).
    4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil melalui kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)
    5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).
    6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149).
    Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).
    Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.
    Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=82

    Reply

  23. angeline on Wednesday 18, 2009
  24. abc on Wednesday 18, 2009

    udah,
    koq pada brantam sih,
    qta punya agama bukan bwat mencela agama lain,
    sadar ga kalian sebagai orang yng beragama klo tindakan klian salah dengan mencaci maki seperti itu.

    Reply

  25. lina j on Wednesday 18, 2009

    Sisipan Palsu dalam Tarjamah Quran

    Setelah membaca perikop Quran dalam bahasa arab, ternyata ada ayat palsu yg disisipkan oleh tarjamahan Quran Diraja Malaysia dan Depag RI yg mana tiada tercantum dalam naskah asli Quran berbahasa arab., berikut dibawah ini sebagai example (contoh):

    sebagai contoh Quran versi DEPAG RI:

    QS 5:68. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

    dari yg saya boldkan (“dan Al Quran”) ini tiada tertulis dalam mushaf Quran berbahasa arab, yang lebih lucu lagi tarjamah Quran malaysia, apakah kedua nagara yg berugama Islam ini tau tulisan Arab???

    sebagai contoh Quran versi Malaysia:

    Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dikira mempunyai sesuatu ugama sehingga kamu tegakkan ajaran Kitab-kitab Taurat dan Injil (yang membawa kamu percaya kepada Nabi Muhammad) dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu (iaitu Al-Quran)” ………..

    Tetapi dalam TEXT QURAN (Bahasa Arab) tiada pernah mencantumkan kata “dan Quran (versi indo)” atau “iatu Al Quran (versi malaysia)”, berikut petikannya:

    QS 5:68

    Qul ya ahla alkitabi lastum AAala shayin hatta tuqeemoo alttawrata waalinjeela wama onzila ilaykum min rabbikum………

    Tarjamah Bebas:

    “Katakanlah wahai Ahli Kitab, sesungguhnya engkau (Ahli Kitab) tidak dipandang sedikitpun beragama hingga menegakkan ajaran yang tertulis dalam TAURAT dan Injil yang telah diturunkan kepadamu (Ahli Kitab) dari Tuhanmu…….

    Ayat ini bercerita tentang hubungan Ahlul kitab (Jews dan Kristian) dengan Tuhannya beserta kitabnya (Taurat dan Injeel) dan bukan hubungan muslim dengan Tuhannya beserta kitabnya (quran). Dikarenakan apa saya bisa mengatakan hal demikian?? dikarenakan 2 faktor iatu:

    1. Disana tertulis kata ” ilaykum” yg bermakna “bagimu”, kata “bagimu” itu merujuk kepada Ahli Kitab (Yahudi dan kristian) dan bukan Islam / Muhammad (Quran).
    2. At Tawrata wal Injeela iatu bermakna “Taurat dan Injil” ini merujuk kepada kitab yg ada pada Ahli Kitab (Taurat dan Injil).

    Yang menjadi soalan yakni

    1. kenapa disisipkan (frase kata palsu) “dan Quran / iatu Al Quran” padahal jelas sekali dalam Quran berbahasa arab tidak ada tertulis kata “dan Quran / iatu Al Quran”
    2. Kontek kalimatnya sahaja menceritakan tentang Ahlul Kitab bukan Islam
    3. Kontek kalimat “ilaykoum” itu sahaja merujuk kepada Ahlul Kitab dan bukan Islam

    Kenapa begitu lancang tangan jahil dari penerjemah Quran yang begitu tega menyisipkan sisipan palsu dalam Quran, dimana text aslinya (bahasa arab) tiada pernah menuliskan hal itu (sisipan)??
    lina j´s last blog ..Muhammad mati My ComLuv Profile

    Reply

    di blog anda, anda bisa bahasa arab.. tapi bukan ahli.. tapi wacana yang anda sampaikan gak bisa di buat sebagai dasar ilmiah.. itu pun gak ada penjabaran bukti.. bahasa arab itu bahasa paling tinggi.. orang yang mengartikan pun harus yang bener2 ngerti… bukan kya anda.. sekedar tahu tapi dah berani buat wacana.. kya tukang becak bilang mobil itu gak efesien.. saran saya banyak belajar.. pke nama cewe lagi.. penakut betul.. foto aja palsu di blog anda..

    Reply

  26. syifa on Wednesday 18, 2009

    :hi:

    Reply

    :senyamsenyum:

    Reply

  27. yusuf on Wednesday 18, 2009

    Assalamualaikum wr, wb.

    sebelum kita memahami sebuah faham.. lebih baik kita pelajari paham itu dari mana.. dan siapa yang menciptakannya.., dan kalau kita mau belajar agama.. belajarlah darii bawah… jangan langsung kita belajar ditengah-tengah atau bahkan langsung diatas… ini bisa berbahaya untuk diri kita…, jadi menurut saya bapak2 yang pintar… kalau anda ingin belajar agama belajarlah kepada orang yang benar2 mengerti agama.. bukan setengah2 juga.., dan jika anda dalam belajar agama ada keraguan tanyalah kepada orang yang lebih tahu dari guru anda itu…, Alhamdulillah sampai sekarang saya tetap menganut faham Ahlussunah wal’jamaah…, insya Allah saya tidak akan terpengaruh oleh paham2 lain… lakukanlah perbandingan dan tanyalah kepada orang yang mengerti agama jika anda mendapat keragu-raguan….

    Reply


CommentLuv Enabled


Bad Behavior has blocked 79 access attempts in the last 7 days.